Aku dan orang tuaku

Susah yang sering kami temui suka datang dan begitu cepat menghilang.

Mereka pernah berkata pada ku”LEE”dadio cah bener, sabar lan tawakal”, begitulah perkata’an mereka, dan yang mereka harapkan aku menjadi orang yang sukses agar hidup tidak selalu susah.

Terkadang bibir tertawa namun hati menangis meratapi nasib yang tak pernah bertubah.

Merekapun bercerita semasa aku kecil “yang tak punya rumah, selalu numpang, dan tak punya penghasilan.

Namun ternyata masih ada juga orang yang dermawan, mau memberi makan dan tempat tinggal sementara.

Pernah juga kami berumahkan kandang kambing, namun kami tetap bersykur masih bisa makan, minum dan berteduh, ayahku pun bekerja sebagai tukang becak walau upah tak sepadannamun dia tak pernah menyerah dan putus asa demi mencari sesuap nasi.

Hingga kini susahpun masih sering menghampiri, namun aku akan tetap mencoba dan terus mencoba untuk menjadi orang sukses, walau raga sudah lelah aku takan menyerah.

Terkadang dalam hatipun bertanya”pantaskah diri ini menjadi orang?”tetapi aku akan tetap tegar untuk menghadapi coba’an ini.

akupun takakan mengecewakan orang tuaku. terkadang datang rasa amarah dalam hati mendengar berbagai cacian dan hina’an yang datang silih berganti, tetapi orang tuaku berkata”jangan dengarkan cacian dan hina’an itu, raihlah mimpi mu”kata itu yang selalu ku ingat untuk menghadapi hari dan dunia yang kejam.

6 comments on “Aku dan orang tuaku

  1. Salam Takzim
    Setelah mendengar butiran-butiran hikmah Idul Adha di masjid dan di tanah lapang, mari kita aplikasikan hikmah semangat berqurban kepada sesama dan kerja keras sekeras ibunda Hajar dalam mendapatkan setetes air cinta untuk Nabi Allah Ismail.
    Salam Takzim Batavusqu

  2. Salam Takzim
    Setelah mendengar butiran-butiran hikmah Idul Adha di masjid dan di tanah lapang, mari kita aplikasikan hikmah semangat berqurban kepada sesama dan kerja keras sekeras ibunda Hajar dalam mendapatkan setetes air cinta untuk Nabi Allah Ismail.
    Salam Takzim Batavusqu.

  3. Salam Takzim….
    Setelah mendengar butiran-butiran hikmah Idul Adha di masjid dan di tanah lapang, mari kita aplikasikan hikmah semangat berqurban kepada sesama dan kerja keras sekeras ibunda Hajar dalam mendapatkan setetes air cinta untuk Nabi Allah Ismail.
    Salam Takzim Batavusqu

  4. jadi inget pesen orangtuaku, “Q ga ingin dikei opo2 nang awakmu lee, Mung siji. nek aku mati, kirimen aku fatihah tok. mung iku.”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s